Jakarta, Shoes and Care - Banyak orang yang bisa menjalani dua peran yang sama-sama menuntut dedikasi tinggi dalam waktu bersamaan. Di satu sisi, ada profesi yang membutuhkan ketelitian, fokus, dan tanggung jawab besar terhadap orang lain. Di sisi lain, ada olahraga yang menuntut disiplin, konsistensi, dan kemampuan melampaui batas diri sendiri. Namun bagi Paskal Rinaldi, kedua dunia tersebut bukanlah sesuatu yang saling bertentangan. Justru keduanya berjalan beriringan, membentuk karakter yang membuatnya dikenal sebagai sosok yang unik di komunitas lari Indonesia.
Sebagian orang mengenalnya sebagai dokter gigi. Sebagian lainnya mengenalnya sebagai pelari yang hampir selalu tampil menggunakan sandal. Bukan saat jogging santai, bukan pula saat latihan ringan, melainkan saat menempuh jarak marathon yang menuntut ribuan langkah dan berjam-jam perjuangan. Karena itulah, banyak orang kemudian mengenalnya dengan satu julukan yang sederhana namun melekat kuat: The Sandal Runner.
Dari Lapangan Basket ke Garis Start Marathon
Jauh sebelum namanya dikenal di dunia lari, Paskal menghabiskan banyak waktunya di lapangan basket. Olahraga tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya sejak usia muda. Basket mengajarkan banyak hal yang tidak bisa ditemukan di ruang kelas; tentang kerja keras, disiplin, mental bertanding, hingga bagaimana menghadapi tekanan ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana.
Pengalaman itu tanpa disadari menjadi fondasi yang sangat kuat ketika ia mulai mengenal dunia lari. Peralihan dari basket menuju olahraga endurance seperti marathon tentu bukan sesuatu yang mudah. Karakter kedua olahraga tersebut sangat berbeda. Jika basket mengandalkan kecepatan, reaksi, dan permainan tim, marathon justru menguji kemampuan seseorang untuk bertahan dalam kesunyian, mengelola energi, dan menjaga konsistensi selama berjam-jam.
Namun, di situlah Paskal menemukan tantangan baru yang membuatnya jatuh cinta pada olahraga lari. Ia mulai berlatih lebih serius, mempelajari tubuhnya sendiri, memahami pentingnya recovery, dan membangun kebiasaan yang mampu menunjang performa dalam jangka panjang. Sedikit demi sedikit, jarak tempuhnya bertambah. Target-target baru mulai bermunculan. Dan dari situlah lahir seorang marathoner.

Ketika Sandal Menjadi Identitas
Di tengah banyaknya pelari yang berburu teknologi sepatu terbaru, Paskal justru memilih jalur yang berbeda.
“Ia berlari menggunakan sandal.”
Awalnya mungkin terdengar tidak lazim. Bahkan tidak sedikit yang menganggapnya hanya sebagai gimik atau cara untuk tampil berbeda. Namun, bagi Paskal, penggunaan sandal bukanlah strategi untuk mencari perhatian. Itu adalah pilihan yang lahir dari proses panjang, adaptasi, dan keyakinan terhadap apa yang nyaman bagi dirinya sendiri.
Seiring waktu, sandal bukan hanya menjadi perlengkapan lari, tetapi juga bagian dari identitas yang melekat pada dirinya. Orang-orang mulai mengenal sosoknya dari kejauhan. Bukan karena seragam tertentu atau atribut mencolok, melainkan karena keberaniannya menjalani sesuatu yang berbeda. Yang membuat ceritanya semakin menarik adalah fakta bahwa ia tidak hanya menggunakan sandal untuk latihan harian. Paskal juga membawanya ke berbagai ajang lomba dengan jarak yang tidak main-main.
Puncaknya, ia berhasil mencatatkan Full Marathon Sub-4, atau menyelesaikan marathon 42,195 kilometer dalam waktu kurang dari empat jam, menggunakan sandal. Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa performa tidak selalu ditentukan oleh apa yang dikenakan, melainkan oleh seberapa besar komitmen seseorang terhadap proses yang dijalani setiap hari.
Menjadi Dokter Gigi dan Pelari di Saat Bersamaan
Di balik berbagai race yang diikutinya, ada satu peran lain yang tetap menjadi bagian penting dalam hidup Paskal: dokter gigi.
Profesi ini menuntut tingkat konsentrasi yang tinggi. Ketelitian dalam setiap tindakan, tanggung jawab terhadap pasien, dan kemampuan untuk terus belajar menjadi bagian dari rutinitas sehari-harinya. Menjalani profesi medis sambil mempertahankan performa sebagai marathoner tentu bukan perkara sederhana. Waktu yang tersedia harus dibagi dengan sangat baik. Ada hari-hari yang dimulai dengan latihan pagi sebelum praktik. Ada pula sesi latihan yang harus dilakukan setelah menjalani aktivitas panjang di klinik.
Namun, justru dari situlah terlihat kesamaan antara kedua dunia yang ia jalani. Baik sebagai dokter gigi maupun sebagai pelari, tidak ada hasil yang datang secara instan. Keduanya membutuhkan konsistensi. Keduanya membutuhkan kesabaran. Dan yang terpenting, keduanya membutuhkan disiplin. Nilai-nilai tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh perjalanan hidupnya.

Different Lane, Same Discipline
Di era ketika media sosial sering kali menampilkan hasil akhir tanpa menunjukkan proses di baliknya, perjalanan Paskal menjadi pengingat bahwa pencapaian besar selalu dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.
“Lapangan basket membentuk mental kompetitifnya.”
“Marathon menguji konsistensinya.”
Sementara profesi dokter gigi mengajarkannya untuk tetap presisi dan bertanggung jawab dalam setiap langkah yang diambil. Tiga dunia yang berbeda, namun memiliki satu nilai yang sama: disiplin. Itulah yang membuat kisah drg. Paskal Rinaldi bukan sekadar cerita tentang seorang pelari yang menggunakan sandal. Lebih dari itu, ini adalah cerita tentang seseorang yang berani berjalan di jalurnya sendiri, tetap setia pada proses, dan membuktikan bahwa kesuksesan tidak harus selalu mengikuti cara yang sama seperti orang lain. Karena pada akhirnya, setiap pelari memiliki lintasannya masing-masing.
Dan bagi Paskal, setiap langkah yang diambil baik di ruang praktik maupun di lintasan marathon, adalah bagian dari perjalanan panjang yang terus ia nikmati hingga hari ini.
