Jakarta, Shoes and Care - Ahmad Latief Nurarifin, atau yang lebih dikenal sebagai Coach Latief, adalah salah satu sosok yang punya pengaruh kuat dalam perkembangan kultur lari di Indonesia. Bukan cuma dikenal sebagai pelari, tapi juga sebagai coach yang berhasil menjembatani dunia komunitas dan performa, dengan pendekatan yang simpel, relevan, dan mudah dipahami.
Perjalanannya di dunia lari dimulai pada 2014. Dari yang awalnya sekadar menjaga kebugaran, perlahan berkembang menjadi sebuah komitmen jangka panjang. Buat Latief, lari bukan soal cepat-cepatan saja, tapi soal konsistensi dan bagaimana memahami tubuh sendiri. Di sinilah yang membuat perjalanannya terasa “beda”: dia tidak hanya berlari, tetapi juga belajar. Keseriusan itu kemudian ia buktikan dengan mengambil berbagai sertifikasi internasional. Coach Latief mengantongi UESCA Certified Running Coach, yang dikenal sebagai salah satu standar global dalam dunia kepelatihan lari berbasis sains. Selain itu, ia juga memiliki lisensi World Athletics Level 1 yang memperkuat pondasinya dalam teknik dan metodologi pelatihan atletik. Kombinasi ini membuat cara melatihnya tidak asal, tetapi punya dasar yang jelas baik secara teori maupun praktik di lapangan.

Sebagai coach, gaya Latief dikenal santai tapi tetap “ngena”. Dia tidak terlalu banyak istilah ribet, tapi fokus ke hal-hal yang benar-benar penting: teknik dasar, efisiensi gerakan, pengaturan pace, dan yang paling krusial: menghindari cedera. Buat dia, percuma lari cepat kalau akhirnya harus berhenti karena cedera. Makanya, banyak pelari, dari yang baru mulai sampai yang sudah rutin berlomba, merasa cocok dengan pendekatannya.
Menariknya, Latief bukan tipe coach yang hanya berdiri di pinggir lintasan. Dia tetap aktif sebagai pelari, terus ikut race, dan merasakan langsung apa yang diajarkan. Berbagai event sudah ia lewati, mulai dari road race hingga trail run dengan level yang tidak main-main. Salah satu pencapaian terbarunya adalah berhasil finis di kategori 60 km pada ajang Binloop Ultra 120 2026. Race ini dikenal berat dengan kombinasi jarak panjang, elevasi yang menantang, dan tuntutan mental yang tinggi. Menyelesaikan 60 km di event seperti ini bukan hanya soal fisik, tapi juga soal ketahanan mental dan strategi. Dan Latief berhasil membuktikan itu.

Sepanjang perjalanannya, berbagai medali sudah ia kumpulkan. Tapi yang menarik, dia tidak pernah terlalu terjebak di podium. Buat Latief, setiap race adalah proses belajar. Tempat untuk evaluasi, eksperimen strategi, dan mengenal batas diri lebih dalam. Pola pikir ini kemudian ia tularkan kepada banyak pelari yang ia bimbing. Ke depan, targetnya juga tidak main-main. Ia berencana mengikuti Gold Coast Marathon, salah satu maraton internasional yang terkenal dengan course cepat dan atmosfer kompetitif. Tidak berhenti di situ, Latief juga membidik tantangan yang jauh lebih ekstrem: menyelesaikan 100 miles di ajang UTMB, salah satu race trail paling prestisius dan paling berat di dunia.
Dari semua perjalanan ini, satu hal yang paling menonjol dari Coach Latief adalah konsistensinya. Dia bukan hanya membangun performa diri sendiri, tapi juga membantu banyak orang untuk mulai, berkembang, dan tetap bertahan di dunia lari. Dengan gaya yang tidak menggurui, tapi tetap berbobot, ia berhasil jadi sosok yang relatable sekaligus inspiratif. Di tengah tren lari yang terus naik, figur seperti Latief jadi penting. Karena pada akhirnya, lari bukan cuma soal finish line: tapi soal proses panjang yang dijalani dengan cara yang benar. Di situlah Coach Latief punya peran besar.
