Jakarta, Shoes and Care - Sepatu yang sering digunakan, baik untuk berjalan, beraktivitas sehari-hari, maupun berolahraga, tentu akan mengalami penurunan kondisi seiring waktu. Salah satu bagian yang paling mudah mengalami keausan adalah outsole, yaitu bagian paling bawah sepatu yang bersentuhan langsung dengan permukaan tanah.
Outsole memiliki peran penting dalam memberikan daya cengkeram, menjaga kestabilan, dan melindungi bagian bawah sepatu dari gesekan. Namun, pernahkah kamu merasa outsole sepatu cepat menipis meskipun baru digunakan beberapa bulan? Kondisi ini sebenarnya bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan penggunaan hingga jenis permukaan yang sering diinjak.
Agar sepatu lebih awet dan nyaman digunakan, yuk, kenali beberapa penyebab outsole sepatu cepat habis berikut ini!
1. Terlalu Sering Digunakan
Salah satu penyebab utama outsole cepat habis adalah intensitas penggunaan yang tinggi. Setiap kali kaki melangkah, outsole akan mengalami gesekan dengan permukaan tanah. Semakin sering sepatu digunakan, semakin besar pula akumulasi gesekan yang diterima.
Hal ini berlaku untuk berbagai jenis sepatu, termasuk sepatu kasual, sepatu kerja, dan sepatu lari. Jika sepatu digunakan setiap hari dalam durasi yang panjang, keausan outsole bisa terjadi lebih cepat dibandingkan dengan sepatu yang digunakan sesekali.
Untuk mengurangi keausan, kamu bisa menggunakan beberapa pasang sepatu secara bergantian sesuai kebutuhan. Cara ini juga memberikan waktu bagi sepatu untuk mengering setelah digunakan, terutama jika bagian dalamnya lembap akibat keringat.
2. Sering Digunakan di Permukaan yang Kasar
Jenis permukaan yang diinjak juga memengaruhi ketahanan outsole. Permukaan seperti aspal kasar, beton, dan jalan berbatu dapat meningkatkan gesekan pada bagian bawah sepatu.
Misalnya, sepatu lari yang digunakan secara rutin di jalanan beraspal akan menerima gesekan yang berbeda dibandingkan dengan sepatu yang lebih sering digunakan di lintasan yang relatif halus. Jika digunakan pada permukaan yang kasar atau berbatu tajam, outsole juga berisiko mengalami pengikisan dan kerusakan lebih cepat. Karena itu, penting untuk menyesuaikan sepatu dengan aktivitas dan medan yang akan dilalui. Sepatu yang dirancang untuk jalan raya belum tentu memberikan ketahanan dan daya cengkeram yang optimal ketika digunakan di medan berbatu atau jalur trail.
3. Pola Berjalan atau Berlari
Setiap orang memiliki pola berjalan dan berlari yang berbeda. Ada yang mendaratkan kaki menggunakan tumit terlebih dahulu, ada yang lebih banyak bertumpu pada bagian tengah kaki, dan ada pula yang mendarat menggunakan bagian depan kaki. Perbedaan tersebut membuat tekanan dan gesekan pada outsole tidak selalu tersebar secara merata. Akibatnya, bagian tertentu bisa lebih cepat menipis dibandingkan bagian lainnya.
Sebagai contoh, seseorang yang sering mendarat menggunakan tumit mungkin akan melihat keausan lebih jelas pada bagian belakang outsole. Sementara itu, orang yang banyak memberikan tekanan pada bagian depan kaki dapat mengalami keausan lebih besar di area tersebut. Pola keausan ini merupakan hal yang umum. Namun, jika perbedaannya sangat mencolok atau disertai rasa tidak nyaman, kamu bisa mempertimbangkan untuk memeriksa kondisi sepatu dan mengevaluasi pola gerak bersama tenaga profesional apabila diperlukan.

4. Pemilihan Material Outsole yang Kurang Sesuai
Tidak semua outsole dibuat menggunakan material yang sama. Produsen sepatu menggunakan berbagai jenis karet dan material lain dengan karakteristik yang berbeda, tergantung pada tujuan penggunaannya.
Ada material outsole yang dirancang untuk memberikan daya cengkeram maksimal, sementara material lainnya lebih menekankan ketahanan terhadap gesekan atau bobot yang ringan. Setiap material memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Selain material, ketebalan outsole juga berpengaruh terhadap seberapa lama bagian tersebut dapat digunakan sebelum menipis. Namun, outsole yang tebal tidak selalu lebih awet karena daya tahannya turut dipengaruhi oleh komposisi material, desain, dan kondisi pemakaian.
Oleh sebab itu, pilih sepatu berdasarkan kebutuhan aktivitas. Jika kamu sering berlari di jalan raya, misalnya, gunakan sepatu lari yang memang dirancang untuk penggunaan di permukaan tersebut.
5. Teknik Penggunaan yang Kurang Tepat
Kebiasaan menggunakan sepatu juga dapat mempercepat kerusakan outsole. Salah satu contohnya adalah menyeret kaki saat berjalan. Kebiasaan ini meningkatkan gesekan pada area tertentu sehingga outsole dapat menipis lebih cepat.
Selain itu, sepatu yang tidak sesuai ukuran dapat membuat kaki bergerak secara berlebihan di dalam sepatu. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kestabilan langkah dan membuat tekanan pada bagian bawah sepatu menjadi kurang merata.
Menggunakan sepatu untuk aktivitas yang tidak sesuai dengan peruntukannya juga dapat mempercepat keausan. Sepatu dengan outsole yang dirancang untuk penggunaan ringan, misalnya, belum tentu cocok untuk aktivitas berat di permukaan yang kasar.
Biasakan berjalan dengan nyaman, pilih ukuran sepatu yang sesuai, dan gunakan sepatu berdasarkan fungsi utamanya.
6. Kurangnya Perawatan Sepatu
Perawatan sepatu tidak hanya berkaitan dengan kebersihan bagian atas, tetapi juga kondisi outsole. Kotoran, pasir, dan kerikil kecil yang menempel pada sela-sela outsole dapat mengganggu daya cengkeram. Jika dibiarkan, material asing tersebut juga bisa menimbulkan gesekan tambahan pada kondisi tertentu.
Setelah digunakan, bersihkan outsole menggunakan sikat lembut untuk mengangkat debu dan kotoran. Jika terdapat lumpur, gunakan air secukupnya dan bersihkan secara perlahan. Hindari penggunaan bahan kimia keras yang tidak sesuai dengan material sepatu karena dapat merusak komponen tertentu. Setelah dibersihkan, keringkan sepatu di tempat dengan sirkulasi udara yang baik. Hindari menjemurnya terlalu lama di bawah sinar matahari langsung atau meletakkannya di dekat sumber panas karena suhu tinggi dapat memengaruhi material sepatu.
Perlu diingat, perawatan yang baik dapat membantu menjaga kondisi sepatu, tetapi tidak bisa menghentikan keausan outsole sepenuhnya.
7. Usia dan Kondisi Penyimpanan Sepatu
Outsole juga bisa mengalami perubahan kondisi seiring bertambahnya usia sepatu. Paparan panas, kelembapan, dan kondisi penyimpanan yang kurang tepat dapat memengaruhi karakteristik material, termasuk kelenturan dan daya rekat pada bagian tertentu. Sepatu yang jarang digunakan bukan berarti akan selalu berada dalam kondisi sempurna. Material tetap dapat mengalami penuaan, meskipun tingkat perubahannya bergantung pada jenis material dan lingkungan penyimpanan.
Simpan sepatu di tempat yang kering, sejuk, dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Hindari menyimpan sepatu dalam keadaan basah atau lembap terlalu lama, terutama di dalam ruang tertutup.

Outsole sepatu yang cepat habis tidak selalu disebabkan oleh kualitas sepatu yang buruk. Intensitas penggunaan, permukaan jalan, pola berjalan atau berlari, jenis material, kebiasaan penggunaan, perawatan, hingga usia sepatu dapat memengaruhi ketahanannya.
Jika outsole sudah menipis secara signifikan, retak, terlepas, atau kehilangan daya cengkeram, pertimbangkan untuk memperbaikinya jika memungkinkan atau mengganti sepatu demi menjaga kenyamanan dan keamanan saat beraktivitas. Selain menjaga kebersihan bagian atas sepatu, perhatikan juga bagian outsole agar kondisinya tetap terawat. Bersama Shoes and Care, kamu bisa menjaga kebersihan sepatu secara lebih menyeluruh sehingga sepatu tetap nyaman digunakan untuk menemani berbagai aktivitas sehari-hari.