Durability Sepatu Nike Jelek? Ini Faktanya!

Ravi Hakeem Kusuma Rahman | 29 Jul, 2026 | 5 menit baca
Durability Sepatu Nike Jelek? Ini Faktanya!

Jakarta, Shoes and Care - Di kalangan pelari, ada satu anggapan yang cukup sering muncul: sepatu Nike cepat rusak. Mulai dari outsole yang cepat aus, upper yang robek, hingga foam yang terasa cepat kehilangan responsivitas. Tidak sedikit juga yang membandingkannya dengan merek lain yang dianggap lebih awet.

Namun, benarkah durability sepatu Nike memang buruk? Atau justru ada faktor lain yang membuat sepatu terasa lebih cepat mengalami penurunan performa? Jawabannya tidak sesederhana "iya" atau "tidak". Durabilitas sebuah sepatu dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari tujuan desain, material yang digunakan, hingga cara pemakaiannya. Berikut fakta-fakta yang perlu kamu ketahui.

Nike Memang Mengutamakan Performa

Hal pertama yang perlu dipahami adalah filosofi desain Nike. Banyak sepatu lari Nike, terutama seri premium seperti Vaporfly, Alphafly, hingga Streakfly, memang dirancang untuk menghasilkan performa maksimal, bukan semata-mata mengejar usia pakai terlama.

Untuk mencapai bobot yang ringan, Nike menggunakan material yang sangat tipis pada bagian upper serta foam yang lebih lembut dan responsif. Konsekuensinya, material tersebut umumnya tidak sekuat material yang lebih tebal.

Artinya, bukan berarti kualitasnya buruk. Melainkan ada kompromi antara berat sepatu, kenyamanan, responsivitas, dan daya tahan.

Foam yang Empuk Memang Lebih Cepat Berubah Karakter

Salah satu teknologi andalan Nike adalah ZoomX Foam. Material ini terkenal sangat ringan dengan energy return yang tinggi sehingga mampu memberikan sensasi berlari yang lebih efisien.

Namun, foam yang sangat lembut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan dengan foam yang lebih padat. Setelah digunakan dalam jarak yang cukup panjang, biasanya foam akan mulai kehilangan sebagian sifat pantulnya. Hal ini sering disalahartikan sebagai sepatu yang "rusak".

Padahal, dalam banyak kasus, struktur sepatu masih aman digunakan. Yang berubah hanyalah sensasi bantalan dan responsnya yang tidak lagi sebaik saat baru. Inilah alasan mengapa sepatu race sering memiliki usia performa yang lebih pendek dibandingkan sepatu latihan harian.

Outsole Nike Memang Tidak Selalu Tebal

Jika diperhatikan, beberapa sepatu Nike memiliki lapisan outsole yang relatif tipis. Bahkan ada area foam yang langsung menyentuh permukaan jalan tanpa perlindungan karet tambahan.

Tujuannya adalah mengurangi berat sepatu sehingga transisi langkah terasa lebih cepat.

Namun, konsekuensinya adalah outsole akan lebih cepat menunjukkan tanda-tanda keausan, terutama jika digunakan pada permukaan yang kasar seperti beton atau jalan dengan tekstur abrasif.

Bukan berarti semua sepatu Nike seperti ini. Seri daily trainer seperti Pegasus umumnya memiliki outsole yang lebih tebal dan lebih tahan terhadap penggunaan sehari-hari.

Cara Berlari Sangat Berpengaruh

Sering kali pengguna menyalahkan kualitas sepatu, padahal penyebab utamanya justru berasal dari gaya berlari.

Sebagai contoh, pelari yang melakukan heel strike dengan gesekan cukup besar biasanya akan lebih cepat menghabiskan outsole bagian tumit. Begitu juga, pelari yang sering menyeret kaki (dragging) saat fase ayunan akan membuat bagian depan outsole lebih cepat aus.

Dua orang menggunakan sepatu yang sama belum tentu mendapatkan usia pakai yang sama karena teknik berlari mereka berbeda.

Permukaan Lari Juga Menentukan

Sepatu yang digunakan hampir setiap hari di jalan beton tentu akan mengalami keausan lebih cepat dibandingkan sepatu yang digunakan di lintasan sintetis atau aspal yang lebih halus.

Beton memiliki permukaan yang lebih keras dan kasar sehingga mempercepat abrasi pada outsole. Selain itu, penggunaan di jalur berbatu, kerikil, atau jalan yang tidak rata juga dapat mempercepat kerusakan pada upper maupun midsole.

Apakah Semua Sepatu Nike Cepat Rusak?

Tentu tidak. Nike memiliki banyak kategori sepatu dengan karakteristik yang berbeda-beda. Misalnya, Nike Pegasus sudah lama dikenal sebagai salah satu daily trainer yang memiliki durability cukup baik untuk penggunaan harian. Nike Structure dan Vomero juga dirancang untuk latihan dengan fokus pada kenyamanan sekaligus daya tahan.

Sementara itu, seri seperti Vaporfly atau Alphafly memang lebih ditujukan untuk mengejar performa maksimal saat lomba sehingga usia performanya relatif lebih pendek.

Karena itu, membandingkan durability sepatu race dengan sepatu latihan harian tentu kurang tepat karena tujuan pembuatannya memang berbeda.

Rotasi Sepatu Bisa Membantu Memperpanjang Umur

Salah satu kebiasaan yang dilakukan banyak pelari adalah menggunakan lebih dari satu pasang sepatu. Misalnya, satu sepatu untuk easy run dan long run, sementara sepatu carbon digunakan khusus untuk race atau latihan interval. Rotasi seperti ini memberi waktu bagi foam untuk kembali ke bentuk semula setelah menerima tekanan berulang. Selain itu, penggunaan yang bergantian membuat tingkat keausan setiap sepatu menjadi lebih lambat dibandingkan dengan hanya mengandalkan satu pasang untuk semua jenis latihan.

Perawatan Juga Berpengaruh

Durability bukan hanya ditentukan saat dipakai, tetapi juga saat sepatu disimpan. Membiarkan sepatu basah terlalu lama dapat mempercepat kerusakan pada lem maupun material upper. Begitu juga, menjemur sepatu langsung di bawah sinar matahari dalam waktu lama dapat mempercepat degradasi beberapa jenis foam.

Membersihkan sepatu secara rutin menggunakan metode yang tepat juga membantu menjaga material tetap dalam kondisi baik dan memperpanjang usia pakainya.

Jadi, Benarkah Durability Nike Jelek?

Jawabannya adalah tidak selalu.

Nike memang memiliki beberapa sepatu yang durability-nya lebih pendek dibandingkan dengan kompetitor. Namun, hal tersebut umumnya merupakan konsekuensi dari desain yang mengutamakan bobot ringan dan performa tinggi. Jika digunakan sesuai fungsinya, dirawat dengan baik, dan tidak dipakai di luar peruntukannya, sepatu Nike tetap mampu memberikan usia pakai yang baik. Pada akhirnya, durability bukan hanya soal merek. Cara berlari, jenis permukaan, frekuensi penggunaan, hingga kebiasaan merawat sepatu memiliki pengaruh yang sama besarnya terhadap umur sebuah sepatu lari.

Jadi, sebelum menyimpulkan bahwa "sepatu Nike cepat rusak", ada baiknya melihat terlebih dahulu bagaimana sepatu tersebut digunakan. Bisa jadi, yang dianggap sebagai kelemahan sebenarnya adalah hasil dari desain yang memang dibuat untuk memberikan performa terbaik di setiap langkah.

 

Artikel Terkait