Jakarta, Shoes and Care - Mencuci sepatu memang terkadang terasa seperti pekerjaan yang merepotkan. Harus melepas tali, menyikat bagian yang kotor satu per satu, membilas, lalu menunggu sampai kering. Karena itu, muncul ide praktis: kenapa tidak memasukkan sepatu ke mesin cuci saja?
Bukannya mesin cuci memang dibuat untuk mencuci?
Secara teori, mungkin terdengar masuk akal. Namun, sepatu sebenarnya tidak dirancang untuk diperlakukan seperti pakaian. Memasukkan sepatu ke mesin cuci bisa menimbulkan berbagai risiko, terutama jika material dan konstruksi sepatu tidak cocok dengan metode tersebut. Sebelum mencoba cara praktis ini, berikut lima alasan utama mengapa sebaiknya kamu berpikir dua kali sebelum mencuci sepatu menggunakan mesin cuci.
1. Material sepatu bisa rusak
Alasan pertama adalah material sepatu. Berbeda dengan pakaian yang umumnya dirancang untuk dicuci dan diputar di dalam mesin, sepatu memiliki berbagai jenis material yang membutuhkan penanganan berbeda.
Mesh, knit, canvas, suede, nubuck, kulit, hingga material sintetis memiliki karakter masing-masing. Beberapa material mungkin cukup tahan terhadap air, tetapi belum tentu tahan terhadap gesekan dan putaran mesin cuci. Suede dan nubuck, misalnya, termasuk material yang cukup sensitif terhadap air. Jika terkena air dalam jumlah banyak dan mengalami proses pencucian yang terlalu agresif, teksturnya bisa berubah dan permukaannya berpotensi terlihat berbeda setelah kering.
Jadi, sebelum mencuci sepatu, jangan hanya melihat seberapa kotor sepatu tersebut. Perhatikan juga bahan yang digunakan.
2. Lem sepatu berisiko melemah
Sepatu tidak hanya terdiri dari material pada bagian atas. Ada outsole, midsole, insole, jahitan, serta berbagai bagian yang direkatkan menggunakan lem. Ketika sepatu dimasukkan ke dalam mesin cuci, sepatu akan terkena air, deterjen, gerakan berputar, dan benturan secara berulang. Kombinasi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan pada bagian sepatu yang menggunakan perekat.
Dalam kondisi tertentu, lem dapat mengalami penurunan daya rekat. Akibatnya, bagian outsole atau komponen lain bisa mulai terbuka, terutama jika sepatu memang sudah berusia cukup lama atau kondisi lemnya sebelumnya sudah mulai menurun. Masalahnya, kerusakan seperti ini terkadang baru terlihat setelah sepatu selesai dicuci dan dikeringkan.
3. Bentuk sepatu bisa berubah
Pernah melihat sepatu yang setelah dicuci justru terlihat “kempes” atau bentuknya tidak lagi seperti semula? Salah satu penyebabnya bisa berasal dari proses pencucian yang kurang tepat.
Mesin cuci bekerja dengan gerakan mekanis yang cukup kuat. Sepatu yang berulang kali terbentur dan terputar di dalam tabung dapat mengalami tekanan pada bagian upper, toe box, heel counter, hingga struktur pendukung lainnya. Padahal, bentuk sepatu dibuat sedemikian rupa agar nyaman ketika digunakan. Jika konstruksinya berubah, bukan hanya penampilan yang terdampak, tetapi juga kenyamanan saat dipakai.
Karena itu, mencuci sepatu sebaiknya tidak hanya mengejar hasil yang terlihat bersih, tetapi juga mempertahankan bentuk dan struktur sepatu.

4. Warna bisa berubah atau luntur
Alasan berikutnya adalah risiko perubahan warna.
Saat mencuci menggunakan mesin, sepatu biasanya terkena air dan deterjen dalam jumlah yang cukup banyak. Ditambah dengan gesekan selama proses pencucian, kondisi tersebut dapat memengaruhi warna pada material tertentu. Risikonya semakin besar jika kamu mencampur sepatu dengan pakaian lain. Warna dari pakaian tertentu bisa saja berpindah ke material sepatu. Sebaliknya, warna dari sepatu juga berpotensi luntur dan mengenai pakaian.
Belum lagi jika sepatu memiliki kombinasi beberapa warna. Bagian putih, misalnya, bisa terkena transfer warna dari bagian lain sehingga hasil akhirnya justru tidak sesuai harapan. Daripada mengambil risiko hanya demi menghemat waktu beberapa menit, lebih baik menggunakan metode pembersihan yang sesuai dengan kondisi sepatu.
5. Mesin cuci juga bisa ikut bermasalah
Bukan hanya sepatu yang berisiko mengalami kerusakan. Mesin cuci kamu juga bisa terkena dampaknya. Sepatu memiliki bagian yang keras seperti outsole dan heel counter. Ketika diputar di dalam tabung mesin cuci, bagian tersebut dapat membentur dinding tabung berkali-kali.
Benturan yang terlalu keras berpotensi menimbulkan suara berisik, goresan, atau bahkan beban yang tidak ideal pada mesin. Selain itu, kotoran, pasir, lumpur, atau kerikil kecil yang masih menempel di outsole dapat ikut masuk ke dalam sistem pembuangan mesin. Kalau dipikir-pikir, mencuci sepatu menggunakan mesin cuci memang belum tentu menjadi solusi yang benar-benar praktis.
Jadi, bagaimana cara mencuci sepatu yang tepat?
Bukan berarti semua sepatu sama sekali tidak boleh terkena air. Yang paling penting adalah mengetahui material, kondisi, dan cara perawatan yang sesuai. Untuk sepatu dengan noda ringan, kamu bisa membersihkannya secara manual menggunakan cleaner yang sesuai, sikat dengan tingkat kekerasan yang tepat, dan air secukupnya. Hindari menyikat terlalu keras karena justru dapat merusak permukaan material. Namun, jika sepatu menggunakan material yang sensitif, memiliki noda membandel, atau kamu tidak yakin dengan cara membersihkannya, sebaiknya jangan bereksperimen sendiri.
Di sinilah jasa cuci sepatu profesional bisa menjadi pilihan. Shoes and Care, misalnya, menangani perawatan sepatu dengan proses yang disesuaikan dengan material dan kondisi sepatu. Jadi, kamu tidak perlu menebak-nebak harus menggunakan cairan apa, sikat seperti apa, atau seberapa banyak air yang dibutuhkan. Pada akhirnya, sepatu memang bisa terlihat sederhana, tetapi setiap material dan konstruksinya memiliki kebutuhan perawatan yang berbeda. Mesin cuci mungkin terlihat sebagai jalan pintas, tetapi risiko yang muncul setelahnya bisa jauh lebih merepotkan.

Jadi, sebelum memasukkan sepatu ke mesin cuci, coba pikirkan lagi. Bersih itu penting, tetapi menjaga sepatu tetap dalam kondisi terbaik juga tidak kalah penting. Kalau ingin lebih praktis dan tidak mau mengambil risiko, serahkan perawatan sepatu kepada tenaga profesional seperti Shoes and Care.