Jakarta, Shoes and Care - Pada era 80-an akhir, Nike memimpin dunia sepatu olahraga dengan model Nike Air Michael Jordan yang sangat fenomenal. Model sepatu ini menjadi sukses karena terdapat teknologi udara pada bagian solnya, hasilnya memberikan pengguna mendapatkan cushion yang lebih baik saat berolahraga seperti bermain basket. Di era yang sama, Nike mempunyai beberapa pesaing seperti Adidas, AND1, hingga salah satunya yang paling besar saat itu adalah Reebok. Kesuksesan Nike tentu tidak membuat Reebok diam saja, brand olahraga asal Bolton, Inggris ini langsung meluncurkan teknologi mereka sendiri dengan nama Reebok Pump. Pernah dengar mengenai teknologi Reebok ini? Biar makin ingat, yuk simak sejarah rise and fall dari Reebok Pump ini!
Sebuah Gimmick Dari Reebok: Reebok Pump
Seperti yang sudah dijelaskan pada kalimat pembuka, Nike menguasai pasar sneakers dan sepatu olahraga pada era 80-an akhir dimana Air Jordan besutan Nike bersama Michael Jordan sangat fenomenal saat itu. Reebok, merasa tersaingi dan ingin agar tetap relevan pada zaman itu. Presiden Reebok pada saat itu, Paul Fireman, menginginkan sebuah teknologi terbaru yang bisa menyaingi teknologi Air dari Nike. Paul menugaskan insinyur bernama Paul Litchfield sebagai penanggung jawab atas proyek pembuatan sebuah teknologi sepatu terbaru dan bekerja sama dengan konsultan Design Continuum.
Pada awalnya, tim ini mendapatkan sebuah ide untuk memasang semacam kantung udara pada bagian dalam sepatu. Kantung ini akan mengembang dengan sendirinya dengan udara dan mampu memberikan dukungan yang lebih baik pada pergelangan kaki. Reebok awalnya skeptis karena bagi mereka itu tampak seperti monitor tekanan darah. Setelah melalui beberapa tahap pengujian langsung ke anak-anak muda dan mereka menyukainya, Sepatu ini menjadi semacam gimmick yang menarik. Melalui kerja sama dengan desainer lain, Paul Brown, prototipe sepatu tersebut diberi tampilan baru dan lebih mirip sepatu basket dan dinamai Pump. Reebok Pump menjadi sepatu dengan tombol besar bertuliskan “pump” pada bagian lidah sepatu yang memungkinkan penggunanya memompa sepatunya setiap saat.
Pada 24 November 1989, Reebok resmi meluncurkan Reebok Pump ke seluruh dunia dengan harga $170. Meskipun dibanderol dengan harga yang mahal pada waktu itu, gagasan pengguna dapat mengembangkan sepatu melalui lidah sepatu merupakan ide yang unik dan sangat inovatif. Reebok Pump begitu sukses di pasaran, bahkan pada tahun 1990 New York Times menulis bahwa jika sepatu itu adalah perusahaannya sendiri, maka Reebok Pump akan menjadi brand terbesar keempat di industri ini. Reebok Pump menjadi sepatu yang sangat digemari oleh para pemain basket, seperti yang diketahui bahwa pemain basket memiliki bentuk kaki yang aneh karena pelatihan atletik selama bertahun-tahun, patah tulang, dan faktor tinggi badan membuat mereka sulit mencari sepatu yang pas untuk mereka.
Setahun kemudian, Reebok melakukan rekayasa ulang Pump dengan memindahkan kantung udara hanya ke bagian lidah sepatu. Rekayasa ini berhasil menurunkan harga sepatu secara signifikan. Menurut artikel tahun 1991 di The New York Times, Reebok mengirimkan 75 juta pasang sepatu ke seluruh dunia pada tahun 1990 dengan pendapatannya tumbuh sebesar 18% menjadi $2,2 miliar. Sampai saat itu, Pump telah menjadikan Reebok pemain dominan dalam kultur sepatu. Dee Brown menjadikannya sebuah fenomena budaya yang baru, sepatu khas Shaq O’Neal adalah Pump. Bahkan sepatu Allen Iverson, Question, juga merupakan perkembangan dari Pump.
Kemana Reebok Pump Sekarang?
Meskipun sepatu ini sangat fenomenal pada akhir tahun 80-an hingga awal 90-an karena teknologi Pump yang sangat unik, nyatanya popularitas Reebok Pump semakin surut ketika memasuki pertengahan tahun 90-an. Salah satu faktor utama memudarnya popularitas sepatu ini adalah konsumen yang mulai lebih menyukai brand dan teknologi sepatu lainnya. Selain itu, harga sepatu Pump yang lebih tinggi dibandingkan sepatu olahraga lainnya yang membuat sepatu ini kurang terjangkau untuk pasar yang lebih luas. Memasuki era 2000-an, Reebok mencoba menghidupkan kembali lini Pump melalui berbagai kolaborasi dan perilisan edisi terbatas. Upaya ini ditujukan kepada penggemar sneaker dan kolektor serta memanfaatkan rasa nostalgia dan elemen desain unik dari Pump. Kolaborasi dengan desainer dan brand lain membantu memperkenalkan kembali Pump kepada konsumen generasi baru.
Salah satu faktor yang mempengaruhi hidup dari Reebok Pump ini sendiri adalah perubahan kepemilikan dari Reebok itu sendiri. Pada tahun 2005, Adidas mengakuisisi Reebok yang menyebabkan pergeseran strategi brand dan fokus produk. Meskipun teknologi Pump tidak sepenuhnya ditinggalkan, namun teknologi ini tidak lagi menjadi fitur utama yang menjual dari lini produk Reebok. Hingga pada tahun 2021, Adidas mengumumkan rencana untuk menjual Reebok ke Authentic Brands Group (ABG).
Jadi bisa disimpulkan bahwa Reebok Pump telah beralih dari teknologi sepatu olahraga yang inovatif menjadi barang yang nostalgia dan koleksi di kalangan komunitas sneaker. Saat ini, Pump yang dari awal tahun 90-an lebih menjadi aksesori fashion dibandingkan produk pertunjukan. Apakah kamu sempat punya sepatu Reebok Pump? Atau masih ada yang simpan sepatu unik ini?