Pasar Santa: Transformasi dari Pasar Tradisional menjadi Pusat Kreativitas dan Gaya Hidup di Jakarta Selatan

Jakarta, Shoes and Care - Pasar merupakan sumber kehidupan manusia. Secara definisi, pasar adalah tempat atau mekanisme di mana pembeli dan penjual bertemu untuk melakukan transaksi jual beli barang dan jasa. Dalam konteks ekonomi, pasar adalah lokasi fisik atau virtual yang memungkinkan pertukaran produk dan layanan antara penjual dan pembeli. Pasar bisa berupa tempat fisik seperti pasar tradisional, toko ritel, atau pusat perbelanjaan modern. Namun dengan kemajuan teknologi, pasar juga dapat beroperasi secara virtual melalui platform e-commerce di internet.

Berbicara mengenai pasar, orang Jakarta pasti sangat familiar dengan pasar yang bernama Pasar Santa. Nama pasar yang terletak di Jalan Cipaku I dan Jalan Cisanggiri II menjadi booming dalam beberapa tahun terakhir, apalagi yang terkait dengan aktivitas belanja thrifting yang sangat digandrungi kawula muda. Namun, tahukah kamu kalau Pasar Santa dulunya hanya sebuah pasar tradisional biasa pada umumnya? Maka itu, mari kita kupas sejarah dari Pasar Santa itu sendiri di artikel ini.

Sejarah Pasar Santa

Mari kita bahas sejarah dari pasar ini. Pasar Santa adalah sebuah pasar yang terletak di antara Jalan Cipaku I dengan Jalan Cisanggiri II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pasar Santa telah menjadi ikon di kawasan Jakarta Selatan, terutama bagi komunitas pecinta kreativitas, seni, musik, dan kuliner. Di balik besarnya animo masyarakat terhadap pasar ini, terutama kaum muda, jauh sebelum itu Pasar Santa mengalami pasang-surut dengan rekam jejak panjang. Pasar Santa sendiri pertama kali diresmikan pada tahun 1971, saat itu  Pasar Santa hanyalah sebuah pasar becek dengan kondisi yang kumuh dan terkesan jorok. Saat itu, Pasar Santa hanya menjual keperluan sehari-hari seperti sayur-mayur dan bahan sembako lainnya. Meskipun kondisinya masih menjadi pasar kumuh, namun Pasar Santa tidak pernah sepi pengunjung lho! Banyak masyarakat yang mengunjungi Pasar Santa setiap hari untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Pada tahun 2002, Pasar Santa mulai dilakukan pemugaran pada area pasar agar menjadi lebih bersih dan jauh dari kesan pasar yang kumuh. Sejak saat itu, Pasar Santa memiliki kesan sebagai pasar tradisional modern. Tradisional modern yang dimaksud lebih mengacu pada bangunan modern, ragam fasilitas seperti perbankan, ATM, bank, namun di dalamnya tetap terkandung ciri khas pasar tradisional, yakni kegiatan tawar-menawar.

Awalnya, Pasar Santa hanya memiliki satu lantai saja dan yang ada disana hanya pedagang yang menjual bahan-bahan sembako. Setelah mengalami renovasi, Pasar Santa terbagi menjadi tiga zona. Zona pertama ada lantai basement yang diisi dengan los basah. Pada zona ini diisi dengan pedagang sayuran, daging, ikan, tempe, bumbu dan sembako lainnya dan aktif mulai dari pukul 06.00-10.30 siang. Zona kedua yang berada di lantai dasar diisi oleh pedagang logam mulia, emas, tekstil dan jasa lainnya. Pada zona ini, biasanya mulai aktif dari pukul 10.30 hingga 18.00 malam. Lalu selanjutnya ada zona ketiga yang diisi oleh tenant kuliner. Ada banyak kuliner yang bisa ditemui di lantai 1 ini. Mulai dari makanan berat, camilan hingga penjual kopi. Namun, bagaimana bisa pasar yang semula merupakan pasar untuk kebutuhan sehari-hari menjadi pasar yang digandrungi anak-anak muda?

Pasar Santa dan Kawula Muda

pada tahun-tahun terakhir, pasar ini mengalami transformasi besar-besaran menjadi pusat kreativitas dan tempat nongkrong alternatif bagi anak muda. Perubahan ini terjadi pada awal tahun 2010-an. Pasar Santa mulai menarik perhatian para pengusaha muda dan komunitas kreatif karena lokasinya yang strategis dan harga sewa yang relatif terjangkau. Hal ini memungkinkan para pelaku industri kreatif dan usaha kuliner untuk membuka toko-toko unik dan kreatif di dalam pasar ini. Pada tahun 2014, komunitas-komunitas anak muda kreatif mulai masuk ke Pasar Santa dan berada di lantai satu. Disana, mereka berjualan kopi, piringan hitam, kaos, jam tangan, dan kuliner. Awalnya, komunitas kopi dan kuliner melihat lantai satu hanya ada beberapa pedagang, mereka akhirnya izin ke PD Pasar Jaya selaku developer dari Pasar Santa atas dasar ingin membentuk pasar kreatif anak muda di Jakarta Selatan jadi tongkrongan yang hits pada saat itu. 

Namun, keramaian pasar kreatif Pasar Santa itu sendiri tidak bertahan lama. Kondisi di lantai 1 bekas tempat pasar kreatif itu lama kelamaan menjadi sepi dan hanya beberapa kios saja yang terisi. Namun, untuk di lantai basement dan lantai dasarnya masih ramai dan kios-kios di kedua lantai tersebut pun hampir penuh. Menyiasati untuk meramaikan kembali Pasar Santa, komunitas di sana bekerja sama dengan Pasar Santa pun mengadakan sebuah acara bertajuk Santa Festival yang rutin diadakan 3 bulan sekali. Hingga kini, Pasar Santa masih digemari dijajaki anak-anak muda kreatif yang ingin mencari barang-barang vintage maupun melakukan thrifting baju-baju bekas yang layak pakai. 

Pasar Santa telah menjadi salah satu tujuan populer bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin merasakan atmosfer alternatif Jakarta. Daya tariknya terletak pada kombinasi antara pasar tradisional dengan sentuhan kreatif dan modern yang dihadirkan oleh para penghuninya. Dengan kondisi yang masih digemari oleh anak-anak muda, kamu wajib nih untuk mengunjungi pasar ‘kalcer’ ini. Nah, kalau kamu ingin mencuci sepatu atau melakukan perawatan sepatu kesayanganmu, Shoes and Care juga hadir loh di Santa! Kunjungi Shoes and Care cabang Santa di Jalan Cisanggiri V No.8, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dengan melakukan perawatan sepatu di Shoes and Care, pastinya sepatu jadi selalu keren dan kalcer! Dijamin, makin pede kalau mau berkunjung ke Pasar Santa!

 

Postingan terbaru